Rabu, 20 Maret 2013

TATA CARA MUSAQAH MUZARA’AH MUKHBARAH DAN HIKMAHNYA


TATA CARA MUSAQAH DAN HIKMAHNYA
Secara etimologi kalimat musaqah itu berasal dari kata al-saqa yang artinya seseorang bekerja pada pohon tamar, anggur (mengurusnya ) atau pohon-pohon yang lainnya supaya mendatangkan kemashlahatan dan mendapatkan bagian tertentu dari hasil yang di urus.
Musaqah adalah kerjasama antara pemilik kebun dan penggarapnya yang hasilnya menjadi milik kedua belah pihak menurut perjanjian yang telah disepakati. Musaqah merupakan salah satu bentuk qiradh dalam bidang usaha memelihara kebun. Musaqah merupakan bentuk kerjasama usaha dalam bidang pertanian dengan cara pemilik kebun menyerahkan kepada petani untuk digarap dan hasilnya dibagi dengan prosentase sesuai dengan kesepakatan. Pada umumnya pembagiannya antara separuh atau sepertiga untuk petani penggarap.
Hukum musaqah adalah mubah/boleh. Jika niat mengikuti sunah Rasululloh maka hukumnya sunnah. Imam Syafi’I, Imam Ahmad dan Imam Malik membolehkan melakukan musaqah untuk semua jenis pepohonan tetapi sebagian ulama’ hanya membolehkan untuk kurma dan anggur saja.
TATA CARA MUSAQAH
1. Dasar Hukum
Dalam menentukan hukum musaqah itu banyak perbedaan pendapat oleh para ulama Fiqh; Abu Hanifah dan Zufar ibn Huzail : bahwa akad al-musaqah itu dengan ketentuan petani, penggarap mendapatkan sebagian hasil kerjasama ini adalah tidak sah, karena al-musaqah seperti ini termasuk mengupah seseorang dengan imbalan sebagaian hasil yang akan di panen dari kebun.8
Dalam hal ini di tegaskan oleh hadist Nabi Saw yang artiya : ‘siapa yang memiliki sebidang tanah, hendaklah ia jadikan sebagai tanah pertanian dan jangan diupahkan dengan imbalan sepertiga atau seperempat (dari hasil yang akan dipanen) dan jangan pula dengan imbalan sejumlah makanan tertentu. ( H.R. al-Bukhori dan Muslim ).
Jumhur ulama fiqh mengatakan : bahwa akad al-musaqah itu dibolehkan. Ditegaskan dalam hadist Nabi Saw. yang artinya : ‘Bahwa Rasulullah Saw, melakukan kerjasama perkebunan dengan penduduk Khaibar dengan ketentuan bahwa mereka mendapatkan sebagian dari hasil kebun atau pertanian itu. ( H.R. Muttafaqun ‘alaih).
2. Rukun Musaqah
         Pemilik dan penggarap kebun hendaknya orang yang berhak membelanjakan harta.
         Tanaman yang dipelihara yang buahnya musiman, tahunan maupun terus menerus
         Kebun yang diolah
         Pekerjaan dengan ketentuan yang jelas baik waktu, jenis, dan sifatnya
         Hasil yang diperoleh berupa buah, daun, kayu atau yang lainnya. Pembagian hasil harus dijelaskan waktu aqad
         Akad yaitu ijab qabul baik berbentuk tulisan, perkataan, maupun isyarat yang dipahami.

3. Syarat Musyaqah
         Akad dilaksanakan sebelum dibuat perjanjian karena musaqah merupakan akad pekerjaan
         Tanaman yang dipelihara hendaklah jelas, dapat dilihat oleh mata
         Waktu pemeliharaan hendaklah jelas sperti 1 tahu, sekali panen, dll.
         Penggarap hendaklah jelas bagiannya seperti separuh, sepertiga, atau lainnya.

4. Batalnya Musaqah
         Penggarap tidak mampu bekerja
         Matinya salah seorang yang berakd

Contoh Musaqah
Misal si A adalah orang yang sanga t kaya dan memiliki banyak tanah /ladang dimana-mana & si B adalah seorang yang rajin bekerja tapi kekurangan lapangan pekerjaan, karena si B orang yangjujur & dapat dipercaya maka siA menyerahkan sebagian kebunnya kepada si B dengan ketentuan – ketentuan tertentu yang telah di setujui oleh kedua pihak. Dan dengan disetujuinya perjanjian tersebut maka si B pun harus merawat kebun si A dengan sebaik – baiknya sampai waktu panen telah tiba.

HIKMAH MUSAQAH
         Terwujudnya kerjasama antara si miskin dan si kaya sebagai relaisasi ukhuwah islamiyyah.
         Memberikan lapangan pekerjaan kepada orang yang tidak punya kebun tapi punya potensi untuk menggarapnya dengan baik
         Mengikuti sunnah Rasululloh
         Menghindari praktek pemerasan/penipuan dari pemilik kebun.
         .Menghilangkan bahaya kefaqiran dan kemiskinan dan dengan demikian terpenuhi segala kekurangan dan kebutuhan.
         Terciptanya saling memberi manfaat antara sesama manusia.
         Bagi pemilik kebun sudah tentu pepohonannya akan terpelihara dari kerusakan dan akan tumbuh subur karena dirawat.




MUZARA’AH
1. Pengertian Muzara’ah
Muzara’ah adalah kerjasama antara pemilik sawah/lading dengan penggarap dengan benih tanahan dari pihak pemilik tanah. Pembagian hasilnya menurut kesepakatan kedua belah pihak. Kerjasama ini biasanya dilakukan pada tanaman yang harga benihnya relative mahal seperti cengkeh, vanili, pala dll.

2. Hukum Muzara’ah
Hukum asal muzara’ah adalah mubah/boleh. Namun bila dikhawatirkan ada kecurangan dari salah satu pihak maka sebaiknya tidak dilaksanakan.

3. Zakat Muzara’ah
Dalam mukhabarah yang wajib mengeluarkan zakat adalah pemilik tanah karena dialah hakikatnya yang menanam, sedang penggarap seolah-olah mengambil upah kerja.

MUKHBARAH
1. Pengertian Mukhabarah
Mukhabarah adalah kerjasama antara pemilih sawah sawah/lading dengan penggarap dan benihnya dari pihak penggarap. Pembagian hasilnya menurut kesepakatan kedua belah pihak secara adil. Kerjasama ini biasanya dilakukan pada tanaman yang harga benihnya relative murah seperti padi, jasgung, kacang, dll.

2. HuKum Mukhabarah.
Hukum dan cara-cara dalam mukhabarah sama denganb muzara’ah.
3. Zakat Mukhabarah
Dalam mukhabarah yang wajib mengeluarkan zakat adalah penggarap karena dialah hakikatnya yang menanam, sedang pemilik tanah seolah-olah mengambil sewa tanahnya. Bila benih berasal dari keduanya maka zakat diwajibkan atas keduanya sebelum pendapatan di bagi 2.

Hikmah Muzara’ah dan Mukhabarah.
• Hikmah muzara’ah dan mukhabarah prinsipnya tidak berbeda dengan hikmah musaqah
• Memberi pertolongan kepada penggarap untuk mempunyai penghasilan
• Harta tidak hanya beredar di antara orang kaya asaja
• Mengikuti sunnah Rosululloah.
KESIMPULAN
1.      Dalam hal hubungan sesama manusia terutama dibidang kerjasama haruslah sesuai dengan kaidah ajaran Islam. Karena dengan mempaktekan secara Islam maka yakinlah bahwa tidak akan ada pihak yang dirugikan, kemudian dengan menjalin kerjsama secara kaidah Islam maka yakin lah pula bahwa kerjasama yang dijalin pun akan diridhoi oleh Allah SWT
2.      Dilihat dari pernyataan ini diketahui bahwa memang benar paroan tanaman karet ini dapat mengentaskan kemiskinan secara individu, tetapi secara perlahan-lahan akan dapat pula mengentaskan kemiskinan secara umum, dengan kata lain perlahan-perlahan perekonomian masyarakat tersebut menuju kea rah tingkat kehidupan yang semakin baik.
3.      Dan ditinjau dari segi cara pembagian sebesar separoh sebagaimana telah diuraikan dimuka, maka dapat dikatakan bahwa hal tersebut sudah sejalan dengan syari’at Islam.
4.      Muzara’ah ialah mengerjakan tanah (orang lain) seperti sawah atau ladang dengan imbalan sebagian hasilnya (seperdua, sepertiga atau seperempat). Sedangkan biaya pengerjaan dan benihnya ditanggung pemilik tanah
5.      Mukhabarah ialah mengerjakan tanah (orang lain) seperti sawah atau ladang dengan imbalan sebagian hasilnya (seperdua, sepertiga atau seperempat). Sedangkan biaya pengerjaan dan benihnya ditanggung orang yang mengerjakan.
6.      Musaqah adalah penyerahan pohon tertentu kepada orang yang menyiramnya dan menjanjikannya, bila sampai buah pohon masak dia akan diberi imbalan buah dalam jumlah tertentu
7.      Dasar hukum yang dijadikan landasan Muzara’ah, mukhabarah dan musaqah adalah hadits dari Ibnu Umar: “Sesungguhnya Nabi SAW. Telah memberikan kebun kepada penduduk khaibar agar dipelihara oleh mereka dengan perjanjian mereka akan diberi sebagian dari penghasilan, baik dari buah – buahan maupun dari hasil pertahun (palawija)” (H.R Muslim).
8.      Disyaratkan dalam muzara’ah dan mukhabarah maupun musaqah ini ditentukan kadar bagian pekerja atau bagian pemilik tanah /buah dan hendaknya bagian tersebut adalah hasil yang diperoleh dari tanah/buah tersebut seperti sepertiga, seperempat  atau lebih dari hasilnya.
9.      Ada perbedaan pendapat mengenai hukum dari muzaraah dan mukhabarah di kalangan ulama’ salaf, ada yang mengatakan muamalah ini haram dan ada yang membolehkannya dikarenakan perbedaan pemahaman hadits Nabi Muhammad SAW.
10.  Hukum dari muzaraah, mukhabarah dan musaqah ada yang bersifat sahih yaitu akad dari muamalah tersebut sesuai dengan ketentuan syara’ dan ada yang bersifat fasid (rusak) yaitu akad yang tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan syara’.

sumber : mbah google.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar